Penting, Tidak Penting?

Jadi, hari ini ada sebuah kalimat yang benar-benar membuatku terdiam seharian.

Ada seorang kawan yang jatuh pingsan di tempat umum, sontak seorang teman yang lain tengah berkoar-koar di group chat angkatan kami sejumlah 120 orang. Hanya sedikit yang datang, hanya ada 2 lelaki dan 3 perempuan, terpaksa kami membopong dia yang pingsan ke dalam taksi dengan susah payah.

Lalu di perjalan salah satu kawan berceloteh tentang ‘kepedulian’, mengatakan kenapa yang datang menolong hanya sedikit, kujawab sediplomatis mungkin, karena tak ingin ada unsur fitnah ataupun negative thinking pada kawan lain yang tak datang.

Kami ber-120, bukan jumlah banyak bukan jumlah sedikit, kupikir tak mungkin juga 120 orang tersebut datang semua, mungkin di antara mereka ada yang tengah sibuk dengan kegiatan lain, ada yang berpikir mungkin telah ada beberapa orang yang berangkat jadi tak perlu berangkat, kupikir tak apa jika bahasan di chat group juga tergantikan dengan bahasan yang lain, kupikir tak apa jika mereka hanya sekedar bertanya ‘apakah teman kami yang pingsan itu tak apa?’

Tapi kawan yang tengah kubonceng ini seperti tak terima hanya dengan sekedar seperti itu. Ia mungkin ingin aksi lebih, kata-kata yang lebih, bahasan yang meletup-letup pula.

Kami ber-120, sudah pasti ada yang lebih menonjol dalam hal ‘sosial’ daripada yang lain, ada yang dianggap ‘lebih’ daripada yang lain, ada yang hanya diam saja sebagai silent reader ada pula yang selalu aktif meramaikan chat, ada yang aktif di luar akademik ada pula yang lebih mengutamakan akademik daripada yang lain.

Sialnya, mereka yang aktif di luar akademik seringkali dianggap ‘wow’ daripada yang lain. Bagiku, semua wajar, aku bisa paham, aku bisa maklum. Semuanya memiliki hak masing-masing menentukan apa yang lebih diprioritaskan.

Lalu si kawan yang tengah kubonceng ini berkata, “Ini teman kita yang penting yang pingsan saja tidak ada yang datang. Bayangkan yang tidak penting yang pingsan, siapa yang datang?”

Tidak salah. Kata-katanya tidak salah, ia menunjukkan sikap kepeduliannya yang besar. Hanya saja,

hanya saja,

hanya saja kalimatnya itulah yang membuatku terdiam seharian. Apakah harus melabeli seseorang penting atau tidak penting?

Rasa peduli itu ada, kawan. Hanya sekedar bertanya keadaan juga rasa peduli. Jika kau menilainya hanya dengan datang tak datang, lalu bagaimana dengan kawan kita yang lain yang mungkin khawatir setengah mati namun tak ada kendaraan yang bisa dikendarai untuk datang?

Sebenarnya ingin kusampaikan pada kawan yang mampu melontarkan kalimat di atas, menurutmu aku ini penting atau tidak penting di dalam angkatan kita?

 

 

catatan:

ini sebenarnya sindiran teruntuk: angkatanku tercinta ‘Goldschmidt’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s