Mendung. Hitam. Kelam. Suara nafas berat dimana-mana, dan salah satunya adalah milik Sua, gadis dengan balutan sweater merah darah, menunggu seorang teman di bawah kanopi kantin kampusnya. Beberapa orang terlihat berjalan sembari sesekali melirik ke arah langit, memastikan bahwa hujan tidak akan turun selagi mereka berjalan, atau mungkin memastikan kapan mereka harus berlari jika ternyata hujan buru-buru turun. Tidak sabaran.

Sua berkali-kali berdecak sembari merutuk dalam hati. Mendung juga tidak membantunya untuk sabar menunggu. Sama sekali. Kekesalan dalam hati Sua kian memuncak ketika dilihatya tetes air mulai jatuh, dan orang-orang mulai berlari kecil-kecil, menyipitkan mata mengangkat tas tinggi-tinggi di depan mata. Hujan benar-benar tidak sabaran, jatuh begitu saja sesuka hati, dan Sua tidak suka.

“Duh,” keluhnya pelan di bawah nafas.

Kanopi tempat dia berlindung mulai dihampiri oleh segelintir orang dan Sua merasa sesak. Masih ada beberapa jarak antara dia dan orang di sampingnya, tapi Sua tidak suka. Hari ini cukup buruk baginya, hujan dan orang-orang yang memenuhi kanopi membuatnya semakin bertambah parah. Kapan hujan akan berhenti?

“Sepertinya hujan akan berlangsung lama,” gumam seseorang di samping Sua.

Sua dengan reflek menoleh ke samping, melihat seorang lelaki bergumam sembari berusaha mengintip ke arah langit dari bawah kanopi, mangut-mangut, dan tangannya dilipat di depan tas yang sengaja digendong di depan dada. Sua memutar kedua bola matanya ketika ia mendengar pernyataan dari lelaki tersebut. Hujan akan berlangsung lama dan Sua tidak suka.

“Menunggu teman?”

Sua mendengar suara menyapa, tapi ia hanya diam saja sembari bersandar di tiang kanopi. Tubuhnya menegang kaget tiba-tiba, seseorang menyentuh pundaknya dan Sua menoleh sedikit melotot.

“Menunggu teman?”

Laki-laki yang bergumam tadi kini melihat ke arahnya, bertanya sesuatu, basa-basi dan terdengar renyah. Sua hanya menganguk sekali –tidak, dua kali, setelah ia mencerna apa pertanyaan lelaki itu.

“Belum datang juga, temannya?”

Lagi-lagi pertanyaan basa-basi. Sua memutar bola matanya malas, melihat sekelilingnya sebagai sindiran pada lelaki itu, lalu menggeleng kepalanya singkat. Sua kembali menyandarkan kepalanya pada tiang kanopi, terlihat menyedihkan dan ia tahu benar. Sudah terbayang beberapa skenario apabila teman tersayangnya itu datang, ia akan marah atau mungkin ia akan diam saja, yang jelas Sua tidak suka.

Lelaki yang berusaha bercakap-cakap dengan Sua itu tiba-tiba berbalik masuk ke kantin kampus dan Sua hanya melirik sebentar. Sua menghembuskan nafas lega, setidaknya ia tidak lagi merasa sesak. Beberapa orang yang berniat berteduh saja juga mulai masuk kantin, berpikir bahwa menunggu dengan duduk lebih baik daripada berdiri di bawah kanopi. Tapi Sua tidak mau duduk sendiri menunggu orang, seperti orang hilang, seperti orang kesepian. Sua tidak suka.

“Ini.”

Sebuah minuman yang panasnya mengepul di udara berada di depan mata Sua. Terjulur panjang dari lelaki di samping Sua. Sua melirik lelaki tersebut dengan aneh dan ragu, tidak memahami maksud tindakan lelaki itu, sedangkan yang dilihat hanya tersenyum simpul dan menyodorkan apapun yang bersifat hangat itu pada Sua.

Tangan Sua menerimanya dengan ragu. Ia bisa merasakan panas yang menyentuh kulit tangannya, membuat ia sadar mungkin sedari tadi ia kedinginan. Sua dapat mencium aroma teh dalam gelas karton. Sua menaikkan sedikit alisnya, terkejut bahwa bukan kopi yang diberikan oleh lelaki itu. Karena sebenarnya Sua tidak suka kopi, rasanya aneh sewaktu kopi telah habis ia minum, menyisahkan asam-asam tidak jelas pada kerongkongannya, nafasnya juga akan sedikit bau, ujung-ujungnya dia akan meminta sedikit air putih untuk menetralkan tenggorokan.

“Terimakasih,” sahut Sua pelan.

Lelaki itu hanya tersenyum menagggukkan kapala. Membiarkan Sua menyesap beberapa mililiter tehnya, sebelum ia membuka suara kembali.

“Tidak suka hujan ya?”

Sua melirik sekali lagi, menelan teh yang masih tersimpan dalam mulut dan membuka suara. “Iya.”

“Tidak suka menunggu ya?”

“Iya.”

“Tidak suka duduk sendiri ya?”

Sua mengerutkan kening. “I-Iya.”

“Tidak suka kopi ya?”

Sua terdiam beberapa saat. Kali ini ia tidak hanya sekedar melirik, namun ia balikkan badannya menghadap lelaki itu, memandang matanya yang hampir sejajar dengannya. Sua tingi dan ia kadang membenci itu. Lagipula, kini tinggi badan bukan menjadi persoalan, namun bagaimana lelaki itu tahu apa yang tidak disukai Sua.

“Bagaimana kamu tahu?”

Lelaki itu tersenyum simpul sekali lagi. Tertawa kecil sembari menyesap kopinya. “Kamu mau tahu aku bisa tahu?”

Kekesalan Sua yang beberapa menit lalu menghilang kini muncul lagi. Bukan lagi karena teman yang tak kunjung datang, tapi lelaki yang memutar-mutar kalimat di depannya itu.

“Yang benar saja,” umpat Sua kesal dan berbalik badan menghindari tatapan lelaki itu.

Sua bisa mendengar desisan tawa dari lelaki itu, dan Sua makin kesal. Sua tidak suka.

“Aku tahu kamu tidak suka.”

Sua dibuat penasaran tapi ia kesal.

“Bagaimana aku tidak tahu, kalau kamu sedari tadi terus mendesah ‘aku tidak suka’.”

Sua menoleh dengan mata heran, sedangkan lelaki itu menganguk-anguk mengiyakan pernyatannya sendiri. “Sungguh.”

“A-Apa?”

“Kamu berkali-kali bilang ‘aku tidak suka’.”

Sua merasa malu setengah mati. Sudah berkali-kali ia mendengar orang-orang yang mengatakan bahwa Sua harusnya bisa menjaga mulutnya, seringkali tanpa sadar menyuarakan apa yang ia rutuki dalam hati. Dan mungkin lelaki di sebelahnya juga berkali-kali mendengar ia seolah-olah berbicara sendiri.

Sua tidak menjawab pernyataan itu sebagai balasan atas rasa malunya. Ia kembali menyesap tehhnya dan memandang ke arah langit yang masih saja abu-abu. Lelaki di sebelahnya juga tidak lagi bersuara. Dan begitu seterusnya hingga suara hujan perlahan mulai hilang, tingga tetes-tetes sisa yang jatuh di atas jalan, orang-orang juga sudah berani menembus gerimis dan sepertinya Sua menyerah untuk menunggu temannya itu dan ia akan segera pergi.

“Kim Jongin.”

Kaki Sua yang hendak melangkah tiba-tiba terhenti oleh sebuah nama. Sua menoleh melihat lelaki itu tersenyum simpul, untuk sekian kalinya.

“Kim Jongin.”

“Apa?”

“Namaku. Kim Jongin.”

Sua tidak tahu bagaimana harus merespon, hingga tiba-tiba tangan panjang yang tadinya menyodorkan teh hangat untuknya berganti menjadi sebuah ajakan untuk berjabat tangan. Sua dengan ragu menyambut tangan lelaki itu, dan melihat tepat ke mata lelaki bernama Kim Jongin.

“Sua.”

“Sua?”

“Park Sua.”

Kim Jongin mengangguk-anguk. “Sampai berjumpa lagi, Sua. Park Sua.”

Sua menganguk perlahan dan masih menjabat tangan Kim Jongin. Sebelum keduanya sama-sama melepas dan Kim Jongin yang melambaikan tangan singkat di udara, lalu menerjang gerimis yang jatuh.

Kali ini, untuk pertam kalinya, tiba-tiba ia ingin untuk sekali lagi berada di bawah kanopi, mendung, kelam, hujan, dan Kim Jongin berada di samping. Maka mungkin saja, Sua suka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s