Dear boys: Don’t be too kind!

 

Dear boys,

sebenarnya aku tidak mengerti harus dimulai dari mana tulisan ini. Mungkin sebaiknya dimulai dari perbandingan antara aku dan kalian. Aku mungkin telah terlatih fisiknya sedari kecil, push-up setidaknya 30 kali dalam sehari, latihan berat 3 kali dalam seminggu, hingga pergi ke fitness center setiap akhir pekan. Hanya saja, dengan latihan seperti itu juga masih saja tak mampu menguatkan hati setiap kali berhadapan dengan kalian.

Mungkin karena dari sekian buku yang telah kubaca, berbagai cerita yang kudengar, film yang kutonton, dan pengalaman yang kurasakan, akhirnya aku mengerti bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan keindahannya masing-masing. Sehingga sampai saat ini pun aku dengan mudah menemukan keindahan dari orang-orang yang kutemui dan kukenal dengan baik. Termasuk juga golonganmu itu.

Dear boys,

sebenarnya aku juga paham betul mengenai sifat kerukunan, keakraban, dan kekeluargaan yang dicontohkan berkali-kali bagaimana melakukannya itu. Maka tidak heran jika kita sama-sama berbuat kebaikan untuk diri kita dan orang lain. Bertutur kata sopan dan memikat hati. Bertindak bijak dan memberikan citra positif. Ketahuilah bahwa semua itu sebenarnya sah-sah saja kalian lakukan.

Dear boys,

sebenarnya aku tidak tahu menahu apa yang kalian pikirkan secara general. Kerap kali kukira, perbuatan baik kalian adalah tanda atas ketertarikan hati. Kalimat sebelumnya bukan tak berdasar. Sejujurnya, aku paham betul bagaimana perasaan seorang wanita, kami tahu batasan-batasan. Bagaimana seharusnya kebaikan itu memang dilakukan dan kebaikan dengan maksud yang lebih.

Dear boys,

jika kau melihat, maka janganlah kau menatap lekat-lekat dengan waktu yang lama. Jika kau tersenyum, jangan berikan senyuman itu bersamaan dengan tatapan menerawangmu. Jika kau bertindak, janganlah kau sentuh kami dengan sengaja.

Karena jika kau berkali-kali menatap dengan lekat atau jika kami berkali-kali menemuimu melihat ke arah kami, kami bisa saja menganggapnya sebagai rasa ketertarikanmu.

Karena jika kau tersenyum bersamaan dengan tatapan menerawangmu atau mungkin kau berikan senyuman itu hanya untuk kami, kami bisa saja menganggapnya sebagai rasa ketertarikanmu.

Karena jika kau bertindak dan sengaja menyentuh kami, bisa saja kami menganggap kalian memiliki rasa ketertarikan.

Lalu, jika ternyata asumsi kami dengan berdasarkan apa yang telah kau lakukan adalah sebuah kekeliruan, bagaimana?

Lagi-lagi aku paham betul bahwa asumsi itu membunuh. Tapi apa daya kami yang menciptakan asumsi itu dengan berdasar apa yang telah kalian lakukan? Apa daya kami ketika mungkin kalian melakukan semuanya berdasarkan kebaikan semata?

Dear boys,

don’t be too kind. Jangan terlalu berbaik hati. Berilah kemurahan hatimu yang berlebih pada seseorang yang kau kasihi, Ibu, Ayah, atau siapapun. Jangan berikan kebaikan yang berlebih pada kami, karena kami bisa berasumsi. Dan asumsi itu membunuh.

 

{boys: bagi yang merasa dirinya bertindak terlalu baik kepada setiap orang}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s