19 hari.

Jadi, 19 hari sudah aku menghilang dari ‘peradaban’.

Peradaban yang dimaksud adalah sebuah dunia yang selama ini kutinggali. Dunia yang dipenuhi dengan omongan orang-orang yang merasa tinggi, dipenuhi dengan omongan-omongan bahasa yang sengaja ditinggikan pula, dipenuhi orang-orang sepertiku.

Peradaban yang dimaksud adalah juga tentang dimana hanya smartphone yang dipegang sehari-hari. Daripada berbicara kosong dengan orang di sebelahmu, lebih baik memainkan sesuatu di benda pintar yang dibuat manusia yang pintar pula.

Lalu kami tiba-tiba dihadapkan pada wajah-wajah sebuah masyarakat desa yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kerukunan. Yang mana kami yang menumpang harus turut serta menjadi bagian masyarakat tersebut. Canggung, awalnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, rasa canggung yang hinggap itu hilang entah kemana.

Mengabdi, katanya.

Kami di sana untuk mengabdi. Berawal dari sebuah perasaan yang asing hinggap ketika untuk pertama kalinya mengajar anak kecil, kini tumbuh menjadi sebuah motivasi sekaligus ambisi untuk bisa mengabdi kepada mereka yang mau menerima kami.

19 hari itu sebenarnya dipenuhi dengan segala jenis perasaan. Senang. Sedih. Marah. Kecewa. Kesal. Bahkan juga perasaan jatuh cinta.

Senang karena akhirnya bisa merasakan hidup dengan saling rukun satu sama lain. Sedih karena nyatanya aku jauh dari rumah. Marah karena tidak semua pihak berpikir dan bertindak sama. Kecewa karena di lain sisi ada yang tidak berjalan dengan baik. Kesal karena beberapa perbedaan pendapat. Bahkan jatuh cinta pun iya, kepada si dia yang melalui tutur kata serta perbuatannya mampu meluluhkan hati.

Jadi apa yang kudapat? Selain mampu mengabdi? Selain perasaan-perasaan itu?

Aku ternyata mendapatkan lebih dari yang kuharapkan. Aku mendapat sebuah keluarga baru, serbuan kasih sayang dan pelukan hangat. Aku mendapat sebuah ketenangan hati, melihat murid-murid yang tersenyum ketika melihat kami dan merasa nyaman dekat dengan kami. Aku juga mendapat ilmu, ilmu berbahasa dan bertindak baik dan sopan. Terlebih, aku mendapatkan kenangan.

Kenangan yang aku takutkan akan hilang suatu saat nanti. Kenangan yang aku takutkan akan selalu kurindukan. Kenangan yang mungkin hanya mereka yang mampu memberi.

Lalu pada akhirnya, aku sengaja menuliskan ini, sebagai pengingat dan perwakilan atas semua kenangan dan perasaan. Terimakasih untuk 19 hari yang dijalani bersama-sama. Terimakasih kepada semua perangkat dan warga desa, karena kalian lah sasaran utama kami, kalian yang sudah menerima kami dengan sangat baik. Terimakasih kepada 24 pengajar IFI 2016, kalian lebih dari sekedar teman seperjuangan bagiku, mungkin kita sudah sama-sama menguliti habis setiap lapisan rahasia pada diri kita masing-masing. Terimakasih IECC, telah mewadahi kami untuk bisa mengabdi dan mendapatkan semua ini. Terimakasih para OC, tanpa kalian kami mungkin akan begitu kesusahan menjalani 19 hari di sana. Terimakasih dirimu, yang mampu membuat jatuh hati dan membuatku belajar bahwa perasaan seperti ini mampu muncul bukan karena paras, tapi karena hati yang lembut, tutur kata baik, dan perilaku yang bijak. Tapi apa daya, ternyata perasaan ini muncul di saat yang keliru, harusnya bukan untuk orang yang telah memiliki nama di hati.

Terimakasih semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s