My Home?

Jadi, setelah sekitar seminggu pulang kampung lagi-lagi aku baper. Ini juga cerita panjang.

Kali ini bukan cowok Balikpapan yang alisnya tebal dan buat aku klepek-klepek itu. Tapi cowok satu Kota, satu SMP, satu SMA. Beda tahun. Sebenarnya selisihnya satu tahun, tapi jadi dua setelah dia masuk kelas akselarasi waktu SMA.

Waktu itu iseng-iseng buka Facebook. Lalu senyum-senyum sendiri lihat postingan dia di atas sendiri, lagi-lagi ceramah panjang tentang sistem yang dirasanya nggak bener di kampusnya. Iseng-iseng lagi kubuka profilnya. Dan tiba-tiba aku rindu.

Rindu perasaan suka sama seseorang selama aku suka dia dulu.

Rindu percakapan sampai tengah malam.

Rindu malu-malu menyapa dia di sekolah.

Rindu diam-diam sengaja lewat depan kelasnya.

Rindu melihatnya dari jauh.

Rindu sengaja lewat depan rumahnya.

Rindu menerima kata-kata penyemangat darinya.

Pokoknya, rindu semuanya, tentang aku dan dia.

Kalau kuingat-ingat, aku nggak pernah menuliskannya dalam blog-ku. Mungkin karena dia memang sengaja tidak dituliskan atau mungkin dia sedang tak kupikirkan. Kali ini aku menuliskannya bukan karena aku ingin lupa. Tapi untuk mengingatnya.

Awalnya waktu itu aku masih 13 tahun. Masih bau kencur, kata orang jawa seperti itu. Masih baru lulus SD, masih baru di SMP.

Waktu itu ada parade tahunan di Kota, dan sekolahku turut berpartisipasi, salah satunya dengan mengirimkan beberapa siswa setiap angkatan. Aku termasuk salah satu dari mereka, tapi sialnya, aku harus membawa tong sampah selama parade berlangsung karena ternyata aku termasuk dalam kelompok ‘Kebersihan’.

Salah satu teman sekelasku berada dalam kelompok ‘Toleransi beragama’, dan karena dia seorang penganut agama Katolik, dia harus pakai baju suster yang biasa kulihat di serial TV Dulce Maria kalau tidak salah. Waktu itu kami harus menunggu berjam-jam untuk sekedar berjalan di jalur parade. Kami berdua duduk di trotoar untuk sekedar berteduh, menunggu giliran untuk berangkat.

“Kamu sama siapa, Vi?”

Kira-kira seperti itu kalimat yang kulontarkan kepada temanku itu. Kelompoknya mengharuskan satu agama memiliki 2 orang penampil, cowok-cewek, jadi temanku itu pasti ada pasangan cowok.

“Itu.”

Jadi Vivi, temanku itu menunjuk seorang cowok dengan baju Pastor serba putih itu, dengan sebuah kitab di tangannya. Waktu itu, dia adalah cowok lucu di mataku. Lalu Vivi menjelaskan lebih detail tentang cowok yang terus saja kuperhatikan itu. Vivi memberikan informasi sekadarnya, bahwa cowok itu adalah kakak kelasnya waktu SD dan berada dalam satu gereja yang sama.

Tampan, lucu, tapi aku hanya sekedar kagum akan ketampannya itu. Toh, dia beda agama denganku.

Waktu aku SMP, ada tren dimana kakak kelas cowok akan suka sama adik kelas cewek dan adik kelas cewek suka dengan kakak kelas cowok. Entah karena ikut-ikutan atau apa, aku mengaku aku suka dengan cowok yang kulihat waktu itu. Tampan sih, makanya aku suka.

Semenjak pengakuan ikut-ikutan itu, aku mau tak mau jadi benar-benar suka dan seperti yang lainnya aku juga mengincar nomer telponnya dan mulai pendekatan. Jujur saja aku lupa bagaimana aku bisa memulai percakapan dengannya, bagaimana aku bisa membuat aku dan dia begitu dekat. Aku membayangkan mengajak berkenalan seorang cowok dan itu membuatku malu setengah mati. Anehnya, aku pernah melakukannya tapi aku lupa bagaimana.

Intinya, kami akhrinya begitu dekat. Sangat dekat. Hingga aku kelas 2 SMP dan dia kelas 3. Banyak hal yang aku tahu tentang dia dan begitu juga sebaliknya.

Aku tahu dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Aku tahu bahwa dia suka sekali main game online, dan sering main ke warnet, setiap hari bahkan. Aku tahu bawa dia berasal dari keluarga yang sederhana, benar-benar sederhana. Aku pernah dengan sengaja lewat depan rumahnya. Memaksa seorang temanku untuk mengantarku lewat. Rumahnya bahkan, entahlah, aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi entah mengapa aku semakin suka padanya.

Apalagi, setelah beberapa kabar tentangnya masuk ke telingaku. Dia menerima beasiswa dari Belanda, beasiswa dengan penyaringan ketat dan khusus, dia dibiayai segala keperluan pendidikan dan uang saku sampai jenjang pendidikan tertinggi, selama ia mau.

Aku jadi makin suka.

Tapi aku juga pernah patah hati ketika tiba-tiba dia berpacaran dengan cewek satu kelasnya. Padahal kami begitu dekat. Hingga aku kira dia suka juga padaku. Tapi rasa suka itu tak hilang meskipun dia punya pacar sekalipun. Selama itu juga aku pernah suka sama orang lain juga, berpacaran juga, tapi ujung-ujungnya aku dan dia sama-sama kembali pada masing-masing, walau tidak ada pengakuan secara langsung.

Hal itu berlanjut ketika dia sudah lulus dari SMP dan beralih ke SMA tetangga. Aku sedikit lega karena aku masih bisa melihatnya lewat di depan SMP ku sepulang sekolah. Itulah alasan mengapa aku sering pulang sore, anak SMA waktu itu banyak sekali kegiatannya, jadi aku harus menunggu sedikit lebih lama untuk menunggunya lewat.

Sampai akhirnya aku berhasil masuk ke SMA yang sama dengannya, aku benar-benar senang. Tapi setelah aku tahu kalau dia masuk ke kelas akselarasi, itu artinya aku dan dia hanya punya satu tahun bersama di SMA.

SMA benar-benar dunia yang berbeda buatku. Aku masih saja dekat dengannya. Benar-benar dekat hingga aku merasa bahwa aku ini kekasihnya. Namun satu hari sebelum Ulang tahunku yang ke-16, ketua kelasku waktu itu menyatakan cintanya padaku, waktu itu yang dipikiranku adalah bahwa dia tidak akan pernah melakukan apa yang ketua kelasku lakukan ini. Karena kita memiliki keyakinan yang berbeda.

Sampai aku punya pacar pun, aku masih saja belum bilang sama kakak kelasku itu. Sampai akhirnya dia tahu sendiri dan perlahan menjauh.

Tapi aku masih belum rela dia menjauh. Jadi di antara hubungan pacaranku dengan ketua kelas itu aku masih saja berhubungan dengan dia. Sampai-sampai aku akirnya putus dan rasanya sakit yang luar biasa itu, aku dan dia sama-sama kembali satu sama lain.

Akhirnya dia harus pergi dari SMA, dan memilih universitas yang bagus di Kota. Aku lagi-lagi merasa lega, karena aku masih bisa melihatnya, setidaknya tidak setahun sekali.

Aku masih bertemu dengannya dengan sengaja.

Intinya kami masih berkomunikasi hingga aku lulus SMA, hingga aku memutuskan untuk sekolah di luar kota. Dia kupikir-pikir seperti kakak. Dan ketika teman kuliahku bertanya bagaimana kisah percintaanku, dia adalah yang kupikirkan untuk pertama kali.

Lalu saat ini, setelah satu tahun aku merantau dan pulang untuk libur panjang. Aku mengingatnya setelah sekian lama. Aku tertawa melihat isi pesan kami sewaktu SMP di Facebook, aku tertawa melihat postingan lama yang sengaja kutulis untuknya. Aku kembali mengingat hal-hal yang disukainya dan kebiasannya.

Dia suka main game.

Dia suka pamer.

Dia orang yang pintar.

Dia orang yang menyenangkan.

Aku suka dia hingga sekarang. Walaupun perasaan itu datang dan pergi sesuka hati. Dan saat ini, aku sengaja kembali menghubunginya, dan kami berdua bercakap-cakap sampai larut malam. Menceritakan apa saja yang belum kami ceritakan selama setahun terakhir. Dia bilang dia rindu seperti ini. Aku juga.

Aku rindu kehabisan pulsa tengah malam dan menangis tak bisa membalas pesanmu.

Aku rindu punya seseorang yang bisa kuajak bercerita apapun.

Aku rindu ada seseorang yang tahu aku suka Korea.

Aku rindu ditemani hingga larut malam.

Aku rindu digombali.

Aku rindu berkali-kali menghapus kalimat untuk membalas pesannya.

Terlebih dia sekarang menjadi sosok yang hebat. Benar-benar hebat. Dia bilang dia akan segera lulus dan sebelum itu PKL di Pertamina selama 2 Bulan. Aku benar-benar mengaguminya.

Lalu aku dan dia mungkin sudah sama-sama tahu. Aku suka dia tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Kita beda agama. Lalu, mau apa?

Diperjuangkan bagaimana pun tidak akan bisa.

Tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa dia bagaikan rumah bagiku.

Kemanapun aku pergi, berlabuh ke manapun aku, tetap saja aku akan kembali ke rumah. Dan dia adalah rumahku. Setidaknya hingga aku menemukan rumah yang baru.

Seandainya kau dan aku tidak begitu berbeda. Jadi apakah kita?

Mungkin,

jadi pasangan yang paling serasi.

Jadi pasangan yang saling mengerti.

Jadi pasangan yang langgeng, 7 tahun dihitung sejak aku suka denganmu.

Jika lagi-lagi aku berkelana. Masihkah kamu jadi rumahku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s