I wish this is the last; o-g

I just stopped the fight and the worst thing is the fight hasn’t  even stated yet.

Hai.

Kali ini aku menuliskanmu. Bersiaplah mendengarkan kisah yang terpanjang di antara lainnya.

.

.

.

Hari-hari dimana aku telah terbebas dari sebuah ikatan adalah hari-hari terberat. Rasa sakit yang menumpuk dan dada yang sesak sebagai efek sampingnya, tangisan setiap malam yang tiada henti, lagu-lagu penuh penderitaan yang terus kudengar berkali-kali, dan hal-hal kecil lain yang mampu membuat kening berkerut.

Aku tidak menghitung dengan pasti, tentang berapa kali matahari tenggelam dengan aku yang masih saja berlaku menyedihkan. Mungkin setahun, atau lebih. Selama atau sesingkat itu, rupanya hati ini masih saja tak bisa rela dan berani untuk kembali jatuh hati. Satu atau mungkin 2 lelaki bisa saja menarik perhatian dan membuat kedua mataku menatap ke arah mereka lekat-lekat, hanya saja perasaan seperti itu tidak pernah bertahan lebih lama seperti sebelum-sebelumnya.

Berapa kali aku telah menuliskan tentang berbagai pria yang pernah melintas? Hanya sekedar melintas? Berkali-kali. Perhatianku yang tertuju pada orang tertentu dan mulai mengamatinya, mulai berkhayal tentang ‘bagaimana jika’,  dan berharap untuk segala kesempatan dan kebetulan yang akan terjadi antara aku dan dia. Perasaan seperti itu benar-benar menyenangkan. Berkhayal benar-benar menyenangkan. Sampai pada akhirnya, perasaan itu tak lagi menyenangkan di hari ke-sekian setelah perasaan itu muncul, yang pasti, tak pernah lebih dari hitungan minggu.

Kalau mereka mengatakan bahwa aku ini mudah jatuh cinta, aku tidak punya alasan menerima dan juga menolak. Aku tidak menolak karena memang mata ini mudah sekali untuk terpana, hati ini mudah sekali untuk tersentuh, terutama untuk mereka dengan paras tampan. Aku tidak akan membohongi diriku sendiri. Aku juga tidak punya alasan untuk menerima, karena sebenarnya perasaan itu kupikir bukan cinta.

Lalu aku akan dengan sangat mudah melupakan. Seperti mereka yang pernah menarik perhatian ini tidak lagi mampu untuk membuatku terpesona. Dengan sangat mudahnya, mereka akan terhapus dari ingatan, jika tidak sengaja untuk diingat.

Pada akhirnya aku akan kembali pada posisi nol. Posisi dimana aku harus menunggu lagi dan lagi setiap kesempatan dan setiap kebetulan yang akan aku alami, lagi-lagi juga harus berharap bahwa mungkin dia yang sebenarnya ditakdirkan untuk bersama diriku akan segera hadir. Mungkin dengan cara yang tak aku kira sebelumnya, atau tak kusadari sebelumnya.

Dan selama ini, mereka yang kisahnya pernah kutuliskan adalah lelaki dengan paras tampan dan mata ini melirik mereka di pandangan pertama. Rasa itu selalu muncul pada tatapan pertama. Selalu.

Kecuali dia.

Dia adalah sosok lelaki dengan kepala botak dan kumis tipis saat pertama kali aku benar-benar melihatnya dengan jelas untuk pertama kali. Berada di kelas yang sama tidak menjamin bahwa kau mengetahui atau bahkan mengenal seluruh anggota kelas, apalagi kelas bersama seperti yang aku jalani kala itu. Berasal dari jurusan yang berbeda dan kepentingan berbeda tidak pernah sebesit pun keinginan untuk mengenalnya.

Aku masih mengingat hari itu. Ujian pertama kelas kita. Aku yang tidak terlalu yakin dengan apa yang aku tulis di lembar jawaban bermaksud untuk bertanya empat mata dengan dosen kita seusai ujian, namun siapa sangka kau juga akan ada di sana, sama sepertiku, menunggu semuanya keluar ruangan dan hanya tinggal kita berempat; dosen kita, aku, dirimu, dan satu temanmu. Aku juga masih mengingat apa yang kau ucapkan kala itu. Dengan suaramu yang terdengar lucu dan wajah yang begitu santai, kau mengatakan kau tidak bisa mengerjakan ujiannya, dan aku hanya diam mendengarkan dosen kita menjelaskan sembari membuka lembar jawabanmu. Aku juga masih mengingat, bahwa tidak ada perasaan apapun kala itu, tidak ada sebesit perhatian yang muncul dari diriku terhadapmu.

Seperti itulah aku mengingatmu.

Lalu aku tidak tahu pasti bagaimana pertemuan-pertemuan kita selanjutnya. Yang kutahu, kau selalu duduk di luar kelas dengan handphone yang kau genggam, lalu dengan aku yang berkali-kali melewatimu dengan wajah yang menunduk atau mungkin berpura-pura tidak melihatmu. Mungkin sesekali aku akan melihat wajahmu untuk beberapa detik. Lalu mungkin beberapa kali, aku menemuimu yang melihatku. Kau tahu? Bahkan saat itu pun aku tak pernah memiliki perhatian apapun denganmu, tidak ada perasaan ganjil muncul. Lalu seperti itu seterusnya.

Seperti itulah aku mengingatmu.

Mungkin banyak ingatan tentangmu yang terlupakan, terselip di antara ingatan-ingatan yang lain. Yang kuingat selanjutnya adalah hari ujian kita yang terakhir. Hari itu adalah hari kamis, 31 Desember 2015. Kau tahu jelas bagaimana kita dan lainnya saling berebut tempat duduk, menyusun strategi untuk perang kecil hari itu. Aku memilih satu tempat di dekat jendela, jauh dari mereka yang mungkin saja akan memanfaatkanku. Kala itu aku lebih memilih untuk jujur pada ujian akhir semester kita. Lalu siapa sangka, kau akan duduk bersebrangan denganku. Disanalah, untuk pertama kalinya aku benar-benar terlihat begitu canggung dan salah tingkah hanya karena melihatmu. Tidak ada yang spesial dari dirimu kala itu, kau berpakaian sebagaiaman biasanya, kau tidak mengatakan apapun untuk membuatku terpesona, kau juga hanya melihatku tidak sengaja, bukan disengaja. Aku tidak mengerti apa yang membuatku untuk pertama kalinya, memberikan perhatianku kepadamu, mengamatimu dari sudut mataku, dan berkali-kali berusaha melihat ke arahmu, melihat dirimu yang begitu serius dengan soal-soal yang ada di atas meja.

Seperti itulah aku mengingatmu.

Seharusnya aku merasa senang, karena itu adalah hari terakhir kita dalam ujian semester. Namun, aku menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhir untuk kelas kita pula. Tidak akan ada kelas ini di semester depan, dan aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu di dalam kelas lagi. Karena jurusan berbeda, kepentingan kita juga berbeda. Hari itu, aku merasa begitu sedih karena memberikan perhatianku padamu di saat yang tidak tepat. Dan aku setidaknya tidak akan bertemu denganmu selama libur pergantian semester.

Seperti itulah aku mengingatmu.

Kau tidak tahu bagaimana jantungku berdegup kencang dan bulu yang berdiri sekujur tubuh ketika aku mulai mencari informasi tentangmu. Aku tidak tahu siapa namamu walau kita berada di kelas yang sama selama  1 semester. Aku tidak tahu apapun selain apa jurusanmu. Maka dari itu aku mencari informasi yang bisa aku dapatkan. Lalu, aku akhirnya tahu siapa namamu, berapa nomor absenmu, daerah asalmu, bahkan apapun tentangmu. Untuk beberapa saat aku begitu memuja-muja adanya jaringan internet masa ini.

Tahukah kamu? Aku mengetahui apapun yang telah kau tuliskan di dunia maya. Tentang keluargamu, dan bahkan tentang mantan kekasihmu. Kau mungkin tidak akan percaya bahwa aku sempat menangis karena ternyata kau benar-benar mengangumkan dan jika ada kata yang lebih dari terpesona, aku akan mengatakannya.

Kala itu, aku benar-benar jatuh padamu. Bukan karena parasmu. Namun karena apa yang telah aku baca, dan apa yang aku artikan dari setiap tulisanmu.

Lalu aku akan berkhayal tentang saat-saat yang aku lewati selama 1 semester tak mengenalmu. Aku menyadari bahwa matamu hangat. Wajahmu begitu ramah. Kau selalu nampak tersenyum walaupun sebenarnya tidak. Tidak ada rasa sakit hati atau apapun ketika kau menuliskan tentang gadis yang kau sempat cintai di kota kelahiranmu.

Satu bulan lamanya aku menjalani liburan dengan dirimu yang terus saja ada di pikiranku.

Untk pertama kalinya, aku menyukai seseorang seperti itu.

Lalu di hari aku kembali ke kota orang untuk menuntut ilmu. Ada sepercik harapan bahwa aku akan bertemu denganmu. Lalu siapa sangka, aku benar-benar bertemu denganmu dengan tidak sengaja di persimpangan jalan tersebut. Kau tidak tahu betapa aku benar-benar bahagia kala itu hanya karena melihat dirimu. Rambutmu lebih panjang dari terakir kali kuingat, kumismu juga sedikit lebih tebal, namun mata itu masih saja hangat dan wajah itu masih saja terlihat ramah. Pertemuan selanjutnya adalah ketika hari hujan di dekat ruang theater antara jurusan kita. Aku memang benar-benar berharap akan bertemu denganmu. Lalu kau benar-benar muncul di hadapanku. Aku berjalan menuju ke arahmu dan kau menuju ke arahku. Kau tidak tahu berapa lama aku menahan nafas dan berusaha untuk tetap melihatmu. Lalu kita hanya berjalan begitu saja dan aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku dengan memandangmu sampai kau benar-benar hilang dari pengelihatanku.

Sayangnya, tidak ada pertemuan beruntun lagi setelah itu. Aku selalu berusaha untuk menemukan cara untuk kita bertemu. Dengan sengaja melewati jurusanmu, atau mungkin mengambil rute panjang menuju rumah dengan melewati persimpangan jalan, tempat dimana aku bertemu denganmu. Atau mungkin aku akan berharap kau lewat dengan tidak sengaja.

Namun hal-hal seperti itu tak pernah terjadi lagi.

Mungkin pertemuan selanjutnya adalah ketika aku berbusana wajib, memakai rok hitam panjang dan kemeja yang benar-benar rapi dan dimasukkan. Kita bertemu dengan tidak sengaja. Aku dengan temanku dan kau dengan temanmu, siapa sangka temanku dan temanmu saling mengenal. Meninggalkan kita berdua yang terdiam sedangkan mereka yang berbicara tentang hal yang kuyakin kita berdua tak mengerti. Lalu aku melihatmu menepi dan mengeluarkan benda yang membuatku berkerut. Aku tidak menyalahkan bahwa seorang lelaki memiliki benda itu. Rokok. Hanya saja aku tidak pernah berpikir bahwa kau adalah salah satu dari sekian juta orang yang memutuskan untuk menghirup asapnya dan mengeluarkan kembali asapnya. Saat itu, aku hanya bisa terdiam dan berpura-pura sibuk memainkan handphone dan pergi tanpa melihatmu untuk sekali lagi.

Seperti itulah aku untuk pertama kalinya merasa begitu kecewa padamu yang tak begitu kukenal.

Aku menyadari bahwa asumsi itu membunuh. Aku tidak mengenalmu. Bahkan aku dan dirimu tak pernah mengucapkan satu kata pun. Lalu mungkin pertemuan kita selanjutnya adalah dimana aku melihatmu di tempat parkir motor, kau yang meletakkan motormu dengan terburu-bur dan meloncati pagar. Jujur saja, aku benar-benar ingin bertemu lagi denganmu, lalu aku hanya menggelengkan kepalaku ketika melihat sosokmu dari jauh, karena aku sudah berkali-kali mengira orang lain adalah dirimu, dan itu memalukan bagi diriku sendiri, karena nyatanya aku terlalu mengharapkanmu.

Aku tidak pernah menyangka kita akan bertemu lagi pada hari itu. Dimana aku dan dengan teman lelakiku, hanya berdua, mengerjakan sebuah tugas di aula asrama. Aku menyadari beberapa orang yang pernah aku lihat sebelumnya, orang-orang yang pernah kulihat berjalan bersamamu. Lalu dengan reflek aku menoleh ke belakang dan menemui dirimu yang kerutnya berkerut mengerjakan sesuatu. Kau tidak mengerti betapa panasnya pipiku dan betapa kerasnya jantungku berdegup karenamu. Aku berkali-kali melirik ke arahmu dan aku berkali-kali pula tersenyum melihat dirimu yang begitu sibuk mengerjakan tugas angkatanmu itu. Tugas yang seharusnya sudah selesai berjam-jam sebelumnya, sengaja aku perlambat untuk melihat dirimu. Kala itu, kau tidak tahu bagaimana aku berharap untuk melihatmu lebih lama, hingga rasanya tiba-tiba begitu sedih ketika mendengarmu kau akan pergi sebentar lagi. Aku berusaha untuk fokus ke tugasku dan masih mendengar suaramu. Hingga saat kutolehkan kepalaku, kau tidak lagi berada di sana. Yang ada hanyalah beberapa dari temanmu yang memutuskan untuk melanjutkan tugas.

Tahukan dirimu? Malam itu aku menjadi lebih sedih daripada biasanya. Aku mendengar beberapa temanmu memanggil-manggil namaku dengan sedikit berbisik, lalu mereka akan menyebutkan nama lain dan itu bukan namamu. Lalu aku mendengar riuh mereka semakin menjadi-jadi ketika aku menoleh ke arah mereka. Aku tidak bodoh. Aku mengert bahwa salah satu temanmu jatuh hati padaku, dan dia adalah teman yang selalu bersamamu selama berada di kelas kita dulu.

Rasanya seperti, aku mengejarmu dan dia mengejarku. Terlalu tak adil, bukan?

Malam itu, aku memberanikan diriku untuk menunjukkan diri di hadapanmu. Mulai dari berniat untuk melihat ke matamu dengan tajam, atau mungkin tersenyum kecil ke arahmu, atau mungkin hal lain yang bisa menunjukkan keberadaanku. Aku tidak ingin kau menjadi satu dari sekian orang yang kisahnya kutuliskan kala itu.

Setidaknya seperti itu. Tidak ketika aku bertemu dengan seseorang yang membuatku terdiam. Bungkam. Jantung bagai ditusuk pedang tajam.

Mantan kekasihmu berada di sini. Dan yang kutahu adalah dia berada di kota yang jauh dari kita, menimba ilmu di sana, dan dia tidak mungkin berada di kampus  kita untuk alasan apapun kecuali dirimu. Karena tidak ada jurusan di kampus kita yang sesuai dengan jurusannya untuk urusan pertukaran mahasiswa atau apapun. Karena seminggu sebelumnya aku mendengar dirimu pergi ke kotanya. Karena dengan hal-hal itu tiba-tiba aku menjadi takut.

Dibandingkan dengan dia, aku tidak memiliki peluang apapun. Karena pada dasarnya kita tidak saling mengenal. Kita tidak saling tahu. Aku dan dirimu tak pernah bercakap-cakap. Aku dan dirimu tak pernah tersenyum satu sama lain. Dan yang paling penting adalah, kurasa hanya aku yang merasakan hal ini.

Lalu dengan pemikiran panjang dan pertimbangan berbagai hal. Aku memutuskan untuk menyerah. Walaupun dia, mantan kekasihmu, tak pernah kutemui sekalipun, aku tahu bahwa suatu saat aku akan berhenti mengangumimu, aku akan berhenti berusaha untuk menunjukkan diriku di hadapanmu. Karena sedari awal peluangku adalah nol.

Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Mereka yang kutuliskan adalah mereka yang tak lagi menerima pehatianku, yang mana rasa itu benar-benar hilang entah kenapa. Hanya saja untuk kali ini, dirimu masih saja kukagumi.

Kau masih saja lelaki yang menari, lelaki yang mengangumkan bagiku. Hanya saja aku yang berhenti. Berhenti untuk berusaha dan berperang, dan bahkan perang itu belum dimulai.

Mungkin dengan tulisan ini aku akhirnya akan bisa melepaskanmu dengan perasaan rela. Aku telah menuliskanmu, semoga tidak akan ada lagi yang tersisa.

Terima kasih, mungkin kau adalah cerita terpanjang selama ini.

Advertisements

2 thoughts on “I wish this is the last; o-g

  1. Prit, selama ini aku suka diem-diem baca blogmu loh. Maaf ya jadi sider, dan maaf untuk hal-hal lainnya, kkk~

    Yaampun aku sedih baca ini. Sedih krn akhirnya kau pun menuliskan tentang dia.

    Hm tapi aku nggatau mau komen apa, wkwk. Semoga lekas bertemu dengan dia yang ‘sesungguhnya’, dia yang kelak emang bakal jadi suamimu, hahahah xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s