Dear my future husband.

11737924_879978672037368_6386498942483649355_n

Hello.

Aku menua. Maksudku, usiaku bertambah setiap detiknya, aku mungkin tidak lagi 18 tahun, aku akan menjadi 19 tahun atau bahkan 20. Selama itulah aku hidup, dan mungkin akan lebih dari itu aku menunggu sesosok impian datang dalam hidupku.

Menjadi seorang penggemar merupakan suatu perbedaan sendiri buatku. Aku tak lagi melirik pria dengan mobil berjejer di luar sana. Aku tak lagi merespon sejumlah obrolan tak penting yang umumnya mereka mulai dengan kata ‘hai’. Aku tak lagi menerima ajakan untuk sebuah kencan sederhana. Aku entah bagaimana, menutup semuanya.

Mungkin karena hanya ada satu nama di benakku, yang selalu kubisikkan sebelum aku tidur, nama yang kusebut ketika membuka mata, nama yang entah sampai kapan akan terpatri dalam ingatanku. Bisa saja, suatu hari nanti aku terbangun dengan tak lagi mengingatnya.

Dear future husband.

Aku tak menginginkanmu menjadi sosok yang bergelimang harta. Aku hanya ingin kau merasa cukup untuk menhiidupiku suatu saat nanti. Walaupun terkadang mungkin nanti aku akan mengeluh tentang uang bulanan yang kurang.

Aku tak menginginkanmu untuk menjadi sosok yang begitu tampan. Aku lebih menyukai senyum tulus dengan mata yang berbinar, terlihat menggoda walau mata itu tak terbuka. Walaupun terkadang mungkin nanti aku akan dengan bangga menunjukkan bahwa pasanganku begitu tampan.

Aku tak menginginkanmu selalu berada di sisihku 24/7. Aku hanya ingin kau menemani anak-anak yang keluar dari rahimku karenamu 24/7, mengajari mereka tentang dunia, mengajari mereka tentang yang baik dan yang benar. Walaupun terkadang mungkin nanti aku akan dengan egoisnya memintamu untuk menemaniku sesaat.

Dear my future husband.

Mungkin terbawa suasana sebagai seorang ‘fangirl’, entah mengapa aku menginginkanmu seperti sosoknya. Seorang pria yang kupajang fotonya di dinding kamarku. Bukan karena dia terlihat begitu tampan, karena sejak awal bukan ketampanannya yang memikatku. Karena dia begitu menyukai apa yang ia lakukan, ia berusaha keras dengan apa yang ia sukai, ia memberikan segalanya untuk itu. Dan hanya melalui sebuah surat aku mengerti bagaimana sosoknya, dia bertanya apakah kita mungkin pernah memilih jalan pulang yang berbeda hanya untuk menghibur diri, apakah kita melihat malam dengan bulan purnama menghiasi.

Entah bagaimana, aku terpikat dengan lelaki seperti itu. Dia seseorang yang begitu lembut, dan pandai menyembunyikan dirinya. Dia akan terlihat berbeda ketika di atas panggung dan berhadapan dengan orang yang ia kenal. Dia begitu menyayangi orangtuanya, saudaranya.

Aku ingin kau juga seperti itu. Seperti dia.

Tapi pertanyaannya adalah, jika memang kau seperti dia, apakah aku pantas untukmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s