17.18.

  1. 18.

Tujuh belas. Delapan belas. Delapan belas tahun. Aku sudah tumbuh membesar – fisik dan mental. Tidak lagi menyukai gula kapas berwarna merah muda yang sama seperti warna dinding kamarku, aku lebih menyukai hal lain yang menurutku lebih indah di 18.

Tumbuh. Berkembang. Konsep seperti itu telah terjadi di 18. Konsep di mana aku telah mengalami banyak hal yang secara mental membunuhku dan efek fisik tertumpuk terlihat tentu saja. Sakit hati. Itu yang mereka sebut untuk gejala di 18.

Daripada gula kapas aku lebih menyukai new arrival musim panas. Daripada boneka beruang aku lebih menyukai uang itu sendiri. Lalu, daripada sepatu sekolah yang baru aku lebih menyukai seorang lelaki yang bersekolah di sekolah yang sama.

Sebelumnya di 17, aku akhirnya merasakan apa yang mereka sebut jatuh cinta. Selalu berteriak girang di atas kasur sembari membayangkan si pencuri hati, membayangkan skenario yang mungkin terjadi – atau tidak mungkin. Kedua sudut bibir yang terangkat terpaksa membuat kedua mata menyipit.

“Hai.” Adalah kata pertama yang kugunakan untuk menyapanya. Suaraku terdengar bersemangat.

Selalu bersemangat di jumpa pagi kami, makan siang kami, perpisahan kami di halte. Bersemangat ketika kencan pertama, makan malam pertama, dan setiap malam sebelum tidur.

Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Seterusnya, hingga satu tahun. Aku masih bersemangat. Memikirkan bahwa 17 adalah usia yang paling menyenangkan dalam hidup, bahwa 17 mungkin adalah usia yang tidak akan pernah terlupakan. Mencatat apa yang kami lakukan di tanggal tertentu. Membuat sebuah note beserta foto yang kami ambil. Dengan bangga melukai tangan dengan jarum rajut untuk membuat sebuah syal untuk musim dingin.

Lalu, tanpa kusadari di 17 itu, aku juga menjadi seorang yang teramat bodoh. Benar-benar bodoh untuk seorang yang berada di peringkat 3 seluruh angkatan.

Aku menghabiskan uang hanya untuk sepiring makanan yang mahal. Melukai jemariku untuk membuat syal. Memaksakan diri untuk bangun tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Bahkan, berbohong pada orangtua hanya untuk sebuah kencan percuma.

Akhirnya, konsep di mana roda berputar terjadi juga di 18. Satu pertengkaran, dua pertengkaran, dan pertengkaran-pertengkaran selanjutnya yang kupaksa untuk lupa. Kupaksa untuk membiarkannya. Kupaksa untuk memaafkannya.

Lalu, akhirnya satu pertengkaran terakhir yang mana membuatku untuk pertama kalinya merasakan itu. Sakit hati. Malamku jadi mengerikan. Kesunyian nampaknya juga bisa membubuhku perlahan, dengan pikiran-pikiran tentangnya yang juga membunuhku. Tidur dengan memeluk kedua kaki sembari selalu berharap bahwa itu semua adalah mimpi yang akan runtuh jika pagi datang.

Tidak. Di 18, rasa sakit itu bukan hanya sekedar perih di kulit seperti luka gores. Di 18, rasa sakit itu membunuh dalam diam, perlahan-lahan.

Di 18 itu, aku butuh setidaknya, beberapa bulan untuk membuat diriku bangkit lagi. Percaya bahwa semuanya akan digantikan yang lebih baik. Percaya bahwa mungkin itu adalah cara Tuhan untuk membuatku dewasa. Karena di 18 itu, aku banyak berpikir, terlalu banyak berpikir. Hingga membuat diriku sendiri mengerti tentang dunia yang sangat lucu dan adil ini.

Mungkin kau tidak akan mengalaminya di 18. Mungkin kau akan mengalaminya di 20 atau seterusnya. Tapi itu tidak apa untuk terluka, untuk mengajarimu bagaimana untuk bahagia. Karena aku delapan belas, jadi itu tak apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s