What you don’t understand.

Sebenarnya menulis sebuah cerita panjang yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian adalah hal yang benar-benar berbeda dari sebuah novel.

Ada tantangan sendiri bagiku dalam menulis karangan dengan bagian-bagian yang terposting dengan tempo waktu yang berbeda. Aku bukan tipe orang yang menulis dengan menjelaskan semuanya dari awal, dan tinggal kejadian-kejadian lain di belakang. Kalau kalian mengenalku, aku suka dengan alur yang susah ditebak, alur yang tak kumengerti hanya dengan membaca prolog atau tulisan di belakang sampul novel. Dan seringkali aku juga mengkritik beberapa karya dari penulis novel di Indonesia, yang mana membuat teman-temanku hanya bisa menganga mengatakan bahwa mungkin aku tak benar-benar menghayati tulisannya.

Aku suka dengan karya di mana seorang penulis mampu memikatku hanya dari satu bab awal. Apalagi dengan latar dan plot yang sungguh berbeda. Aku juga kurang menyukai karya yang tidak ada penggembangan kedua tokohnya, maskudku seperti dari awal sudah terjadi seperti itu dan sampai akhir tidak ada perubahan sama sekali, aku juga kurang menyukai cerita yang tak berkesan apapun setelah aku membacanya.

Aku mendapatkan sejumlah komentar dari mereka mengenai tulisanku. Dan apa yang aku khawatirkan memang terjadi. Mereka mengeluh karena tak mengerti ceritaku dan merasa binggung. Seperti yang kubilang, aku suka dengan alur yang susah ditebak, tidak menyukai bagaimana tokoh dan semua situasi dijelaskan dengan begitu detail di awal.

Aku mempelajari dari hidupku sendiri bahwa, kehidupan ini juga tak menjelaskan apapun pada kita, langit dan bumi tak berbicara, sesuatu terjadi tanpa ada penjelasan. Dan kita mampu mengerti itu semua dengan diri kita sendiri yang memutuskan untuk mengerti, menganalisis. Kita sendiri yang mengerti tentang apa yang terjadi, padahal siapapun tidak berbicara.

Maka dari itu aku menyukai cerita yang tidak menjelaskan apapun di awal, namun ada pengertian di tengah-tengah, dan akhir yang begitu realistis.

Setiap orang berbeda, ada yang sabar dan menunggu dan ada pula yang sebaliknya. Mungkin lambat laun kuharap mereka mengerti, semuanya butuh proses, proses untuk dimengerti dan dipahami, seperti sebuah cerita. Mengeluh karena tidak mengerti boleh saja, namun apakah kau mengerti semua yang terjadi dalam hidup ini? Tidak bukan?

Maka dari itu, menunggu bukanlah sebuah kesalahan, tidak mengerti bukanlah salah siapapun, maksudku penulis maupun membaca, penulis menyimpan semuanya di tengah cerita sedangkan pembaca menuntut untuk mengerti. Maka dari itu, bersabarlah. Seperti kau yang berusaha mengerti hidupmu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s