Saudade

            Terakhir kali aku melihat tepat di matanya adalah sabtu kelima musim semi. Dan aku tak menyangka, bahwa sabtu kelima musim semi adalah hari terakhir dimana matanya menyambut tatapanku.

            Saudade. Satu kata asing menurutku.

            Sabtu pertama musim semi. Kau dan aku yang tak bisa kusebut sebagai ‘kita’ hanya saling mencuri pandang satu sama lain, menduga-duga apa yang kau pikirkan tentangku, dan sebenarnya ada harapan kecil apakah kau juga menduga-duga apa yang kupikirkan tentangmu. Palsu. Sebuah kata itu cukup untuk menjelaskan bagaimana dirimu. Aku menghitung berapa waktu yang kuhabiskan denganmu. Satu tahun dua puluh hari. Cukup lama atau mungkin cukup singkat untuk menjalin sebuah hubungan yang rumit. Cukup lama atau mugkin cukup singkat untuk sampai pada titik ini, pada titik di mana kita sudah tak menghiraukan satu sama lain sejak musim dingin terakhir. Aku menghitungnya, 37 hari sejak dirimu kutinggalkan. Aku tahu mungkin untukmu begitu menyakitkan, tapi apakah kau berpikir bagaimana menahan sakit selama satu tahun dua puluh hari dengan sikapmu?

            “Dia mencarimu. Wanita itu bilang dia rindu padamu, dia menyesal telah memperlakukanmu begitu buruk, Jongin. Dia menyesalinya.”

            Percakapanku dengan seorang teman darimu membuatku tersenyum remeh. Kau begitu rapuh. Kau menyombongkan dirimu bahwa kau bisa mendapatkan lelaki mana saja yang kau mau dan tak perlu harus denganku. Lalu, kalimat itu muncul, bukankah itu lucu?

            Saudade. Satu kata asing menurutku. Terdengar indah.

            Sabtu kedua musim semi. Walaupun aku tidak menatap ke arahmu tapi aku tahu kau memperhatikanku dari jauh. Ada rasa iba di dalam hati melihatmu begitu terluka, namun tak kupungkiri bahwa aku merasa puas kau mungkin merasakan apa yang aku rasakan dulu, tak dihiraukan oleh orang yang kau cintai. Apakah kau tahu, aku masih saja menghitung hari? Tak kupungkiri bahwa aku masih mencintaimu, namun aku tak mau kembali denganmu. Aku hanya tak ingin terluka lagi. Hanya itu.

            Kau selalu mengirimkan pesan-pesan permintaan maafmu kepadaku. Ribuan kata yang secara tersirat memintaku untuk memaafkanmu dan memintaku kembali. Kau tahu aku tak menanggapi satu pesan pun, namun kau masih saja mengirimkan pesan-pesan itu. Tahukah kau bahwa kata-kata yang kau kirimkan padaku adalah kata-kata yang ingin aku dengar darimu sejak dulu, setiap saat menunggumu menyampaikan kata-kata itu tanpa harus aku yang memulai.

            Maafkan aku, Jongin, tapi aku tak mungkin melepasmu begitu saja, ingat janjimu, ingat janji kita.

            Aku mencintaimu, terlalu mencintaimu hingga masih menganggap bahwa kau meninggalkanku hanyalah mimpi buruk dan menganggap kau akan kembali, Jongin.

            Oh, Sayang. Apakah kau tahu tidak ada janji yang abadi? Aku terlalu cinta pada waktu itu untuk mengucapkan janji-janji manis akan masa depan untuk kau dan aku. Namun, sepertinya itu hilang sia-sia, karena kau yang menyia-nyiakan cinta dan segalanya yang aku berikan dahulu.

            Aku mencintaimu. Hingga kupikir kau terlalu jahat untukku. Hingga mereka teman dariku, menyarankanku untuk mendekati wanita lain, untuk melupakan dirimu dan luka yang kau beri.

            Saudade. Satu kata asing menurutku. Terdengar indah. Sangat indah.

            Sabtu ketiga musim semi. Aku tak mengira bahwa kau memiliki banyak orang untuk mengetahui segalanya tentangku. Aku bertanya-tanya mengapa kau begitu tak rela melepasku pergi. Ketika dulu aku menahanmu kau meronta ingin lepas dariku, namun begitu aku melepasmu, kenapa kau seperti ini?

            Kau masih saja berusaha menghubungiku. Lewat pesan. Lewat teman. Untuk sesaat ada keinginan untuk membalas satu pesanmu, namun kuurungkan niatku, aku tak ingin merusak benteng diri yang susah-susah kubangun, benteng yang menghindarkanku dari luka yang kau beri.

            “Sabtu depan akan ada acara Prom Night. Apakah kau akan datang? Mungkin kau bisa menemukan sosok baru di sana atau mungkin wanita yang kau dekati ada di sana.”

            Sebuah pesta dansa. Oh, Sayang. Ingatkah pesta dansa musim semi tahun lalu? Aku menghitungnya, hari itu adalah 10 hari sejak kau menjadi kekasihku. Aku mengharapkan kau mau menerima uluran tanganku untuk berdansa, walaupun aku datang bersama gadis lain waktu itu, walaupun kau berstatus kekasihku. Siapa sangka? Gadis itu mengajakku sekitar seminggu sebelum aku menyatakan cinta padamu. Oh, hari itu kau menolak tawaranku untuk berdansa denganku, dan kau tak mengambil satu foto aku dan kau berdua sama sekali, yang ada hanya foto antara dirimu dan teman-temanmu.

            Aku tidak tahu apakah kita akan berjumpa di sana atau tidak. Aku tahu kau menyukai dansa. Ada sedikit harapan bahwa kau akan datang.

            Saudade. Satu kata asing menurutku. Terdengar indah. Sangat indah. Hingga pada waktu aku mengetahui artinya.

            Sabtu keempat musim semi. Kau begitu menawan tapi juga mengesalkan.

            Kau datang. Berbalut gaun hitam paduan merah. Cantik menurutku. Kau datang berjalan pelan memasuki pintu masuk, matamu terlihat sayu sembari melirik ke kanan ke kiri. Aku melihatmu berbeda, kau terlihat begitu kecil dan kurus. Aku tak tahu berapa satuan berat berkurang dari tubuhmu. Senyum menawanmu yang memikan hatiku dulu tak terlukis di wajahmu. Sementara itu ada wanita lain, yang berstatus teman namun tengah dekat denganku, dengan make up tebal seperti itu dia terlihat cantik, busana yang sederhana dan rambut indah tergerai ke bawah, tanpa sadar aku memperhatikan wanita itu. Kemudian mataku kembali menatap dirimu yang masih terpaku di bibir pintu. Matamu menangkap mataku. Tak seperti tatapan yang selalu kau berikan padaku dulu; lembut dan sinis. Kali ini kau memperlihatkan tatapan sendu. Entah hanya dengan melihat matamu aku tahu bahwa perubahan besar terjadi pada dirimu karena aku. Kau mencintaiku, hingga membuatmu berpikir terus menerus tentangku, hingga membuat dirimu sakit sendiri seperti itu.

            “Dia begitu cantik, ajaklah dia untuk berdansa.”

            Seorang teman menyarankanku untuk berdansa dengan wanita itu bukan dengan dirimu. Aku menggeleng kecil, tak berminat sama sekali untuk melangkahkan kaki untuk berndansa. Hingga kurasakan lenganku terasa berat tercekram. Kau yang melakukannya. Kau mencekram lenganku dan menarikku ke pinggir, keluar dari kerumunan.

            “Aku harus bicara denganmu.”

            Nada bicaramu tak seperti yang dulu. Kau selalu terdengar serius dan nada seorang boss, namun kali ini kau terdengar memohon terdengar menyedihkan. Namun, dibalik itu aku menyadari keegoisanmu muncul kembali. Aku tahu kau tak akan melepaskan cengkraman itu sebelum aku bicara denganmu.

            “Ya?” Hanya kata itu balasanku.

            “Apakah kau menyukai wanita itu? Apakah kau mengincarnya? Kau tahu bahwa aku tak bisa melepaskanmu? Kau tahu pasti bukan bahwa aku masih memegang janji-janjimu. Kau tidak bisa melepaskanku begitu saja. Aku mencintaimu dan aku membutuhkanmu, maafkan aku jika salahku memang terlalu besar hingga membuatmu jauh dariku seperti ini.”

          Kau menghujaniku dengan pertanyaan dan pernyataan yang hanya kubalas dengan, “Maaf, maafkan aku, ya?”

            “Minta maaf untuk apa?”

            “Untuk membuatmu seperti ini. Dengar, aku tidak menyukai dia, aku tidak ada apa-apa dengannya.”

            Aku sempat merutuki diriku untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Aku tak ingin kembali padamu meskipun aku mencintaimu, namun ucapanku barusan terdengar bahwa aku tidak ingin dirimu salah paham, dan aku merutuki kenapa aku tidak jujur padamu, kenyataan bahwa aku sedang mendekati wanita yang kau bicarakan.

            “Lalu, kenapa aku sampai mendengar, kau menghubungi dia? Sementara aku mencoba untuk menghubungimu tapi tak ada balasan?”

            Sebuah hembusan panjangku dan jawaban, “Lalu apa urusanmu?”

            Kulihat dirimu sedikit terguncang. Aku yakin, nafasmu tercekat dan kau berusaha untuk menahan cairan bening keluar dari kedua sudut matamu. Kau tahu, kau terlihat begitu menyedihkan, dan terlebih lagi aku ingin menenangkanmu tapi rasa egoku ini terlalu besar.

            “Kau menyakitiku terlalu dalam, dan maafkan aku, aku lebih baik sendiri selamanya daripada aku harus kembali kepadamu.”

            Ucapan yang kasar dariku. Aku menjauh darimu dan kau mengikutiku dengan sebelah tanganmu menutupi mulut dan hidungmu. Aku berhenti di tengah kerumunan. Beberapa pasang mata menatap kau dan aku terheran.

            “Kau tak ingin melepaskan cengkraman itu?” tanyaku.

            Kau hanya menggeleng. Entah mungkin perasaan yang jahat dan ego menguasaiku, aku merasa bahwa di depan umum ini aku akan menyatakan bahwa kondisi seperti ini adalah semua salahmu dan karena dirimu sendiri kau seperti itu.

            “Maafkan aku, aku begitu egois dan tak berterimakasih atas semua yang kau lakukan untukku, Jongin. Aku menyesal, aku mohon, tidakkah cukup aku mengatakan sambil memohon seperti ini di depan umum, aku tak apa seperti itu asalkan itu demi dirimu.”

            “Aku tak ingin disalahkan karena kau seperti ini, jadi tolong pergilah. Aku sudah tak mencintaimu lagi. Aku tak ada perasaan apapun padamu. Aku tak suka jika kau tetap menyukaiku. Aku risih.” Aku menghempaskan tanganmu yang mencengkram lenganku.

            Aku bisa melihat wajahmu yang memucat. Aku bisa merasakan tanganmu yang gemetar. Aku bisa merasakan hatimu yang begitu terluka. Maaf, aku berbohong untuk kali ini padamu, aku tak ingin tersakiti lagi meskipun aku masih mencintaimu, aku tak ingin bersamamu bukan karena apapun, agar kau belajar bagaimana untuk menghargai orang yang ada untukmu.

            “Kau bilang, kita akan selalu bersama, Jongin.” Suaramu bergetar, dan aku hanya menggeleng dan mengucapkan maaf.

            Aku meninggalkanmu, keluar gedung sembari berlari kecil, kemudian suara kerumunan di dalam semakin ramai dan bergemuruh. Tunggu, gemuruh yang tak wajar. Aku membalikkan badan dan kulihat orang-orang mengerumuni tempat di mana aku meninggalkanmu. Kemudian yang kulihat adalah 2 orang lelaki yang tengah mengangkat tubuhmu yang lemah dan tak sadarkan diri. Hingga, aku akhirnya sadar aku membuatmu seperti itu, yang bisa kulakukan hanya lari. Kau bukan milikku lagi, bukan tanggung jawabku lagi, meskipun aku masih mencintaimu.

            Saudade. Satu kata asing menurutku. Terdengar indah. Sangat indah. Hingga pada waktu aku mengetahui artinya. Ternyata menyakitkan dan memilukan.

            Sabtu kelima musim semi. Aku melihatmu duduk di halte bus sembari tersenyum sopan ke arah lawan bicaramu.

            Seminggu sejak kejadian itu. Aku sama sekali tak berani untuk melihat dirimu. Rasa bersalah muncul mengetahui keadaanmu semakin memburuk, tubuhmu lebih kering. Kau masih terlihat cantik namun tak sesegar dulu. Hingga akhirnya yang kulakukan hanya mengamatimu dari jauh, seperti sekarang. Aku tak lagi mendapatimu menoleh kepadaku. Entah kenapa, ada harapan kecil bahwa kali ini kau akan melihatku. Dan, ya akhirnya, kau menoleh ke arahku, kau dan aku bersebrangan. Kau menatapku dengan tatapan datarmu, hanya datar, bola matamu tepat menatap ke dalam mataku. Untuk beberapa saat aku merasa detak jantungku terasa begitu cepat, ada rasa sesak yang kemudian menjalar ke semua organ, seperti memberikan getaran untuk energi setiap organ.

            Lama menatapmu dan kau balas menatapku. Hingga aku sadar kedua sudut bibirmu mulai terangkat membentuk sebuah senyuman, dan bodohnya lagi, seolah takut jika jantungku akan berdetak lebih cepat, aku mengalihkan pandanganku, melepas kontak mata antaka aku dan dirimu. Mejauh dari tempat itu segera mungkin. Terasa berat karena jantung ini tak ada henti berdegup terlalu cepat. Aku tak tahu bagaimana ekspresimu melihatku pergi. Aku mencintaimu tapi aku takut kembali padamu, aku tak mau kau menyakitiku lagi.

            Saudade. Sebuah perasaan yang terlalu mendalam.

            Tak kukira bahwa lima sabtu musim semi akan berakhir seperti itu. Seorang teman darimu datang dan menyampaikan pesan-pesanmu padaku.

            “Dia meminta maaf padamu, Jongin. Karena selama kau dan dia bersama, dia merasa begitu bersalah karena tak memperlakukanmu dengan baik, dia menunjukkan sifat keegoisannya dan angkuhnya. Ia ingin mengetahui apakah dengan begitu kau masih mencintainya.”

            Oh, Sayang. Kenapa kau harus bersikap seperti itu? Tidakkah kau pikir itu mempermainkan hati dan perasaan seseorang.

           “Dia tak mengira dia akan benar-benar mencintai dirimu. Seorang Jongin yang menurutnya begitu sempurna. Hingga dia tahu kesalahannya selama ini dan begitu kehilangan ketika kau meninggalkannya, jujur dia tidak pernah mencintai lelaki sampai seperti itu, Jongin.”

            Ya, dan aku tak pernah se-terluka ini karena dirimu.

            “Dia merasa bahwa dia pantas menerima perlakuan dan perkataan yang menurutku terlalu kasar untuk wanita. Dan dia meminta maaf karena dia tak bisa menyampaikan permintaan maaf untuk terakhir kali dengan sungguh-sungguh. Karena kau tahu, Jongin? Hari terakhir dimana kau melihatnya, itu adalah hari terakhir baginya untuk melihatmu juga.”

            Terdengar sedikit ambigu. Apa maksudnya, Sayang?

            “Dia tak di sini lagi, Jongin. Hari di mana kau melihatnya di halte adalah hari terakhir bagi dia untuk hidup. Kau tak tahu? Kau pergi dari sana dan dia mengejarmu, tapi kau terlalu cepat hingga kemudian dia tergeletak tak berdaya, aku waktu itu sudah secepat mungkin membawa dia ke Rumah Sakit, namun yang ada dia sudah tak tertolong lagi, Jongin. Sebagai seorang teman dari dirinya. Maafkanlah ia, kumohon.”

            “Di halte di hari itu, dia mengatakan padaku bahwa jika ia tak ada kesempatan lagi untuk bertemu dan berbicara padamu, dia ingin aku menyampaikan ini jika bertemu denganmu, dia mencintaimu, sangat mencintaimu, hingga ia tak rela kau pergi darinya, egois memang, namun itulah dirinya.”

            “Dia tahu bahwa kau sudah tak mencintainya lagi, dan dia berkata bahwa itu salahnya karena membuatmu tak mencintainya lagi. Dan untuk yang terakhir, dia minta maaf karena dia tak tahu bahwa bahkan perasaannya sendiri merupakan hal yang salah, dia minta maaf karena perasaannya sudah membebani dan membuatmu risih. Maafkan dia jika membuatmu tak nyaman, risih, dan sebagainya. Maafkan dia, Kim Jongin. Maafkan dia.”

            Teman darimu pergi. Kemudian aku hanya bisa diam mematung. Mendengarkan pesan panjanmu. Kemudian yang kulakukan hanya bersandar dan beberapa saat kemudian teriakan dan tangisan mulai terdengar dariku.

            Saudade. Rindu ini tak ada yang mengobati.

            Aku tak menyangka bahwa sabtu kelima musim semi adalah hari di mana kau terkahir hidup. Aku tak menyangka kebohongan perasaan yang aku ciptakan agar melindungi diriku dari dirimu membuatmu pergi dengan seperti itu. Aku tak menyangka bahwa kau, wanita yang kucintai harus pergi. Aku merindukanmu dan ini salahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s