A Peaceful Life

Terkadang, ketika malam tiba dan aku terbangun menatap langit-langit kamar. Angin sejuk berhembus pelan melalui pendingin ruangan. Dan gelapnya ruangan yang terselamatkan oleh cahaya di atas nakas. Aku menemukan diriku tidak lagi merasa rindu.

Terkadang, ketika pagi menyambut dan secangkir teh telah siap di meja. Beberapa sayup suara terdengar bersiap. Lalu-lalu lalang padat kendaraan. Dan aku terhenti di tengah kemacetan. Aku menemukan diriku tidak lagi merasa rindu.

Terkadang, ketika siang dan panas matahari menyengat. Debu jalanan berterbangan. Peralatan yang kupegang menyita perhatian. Aku menemukan diriku tidak lagi merasa rindu.

Terkadang, ketika sore tiba. Beberapa orang tengah bercerita tentang orang tersayang. Tentang hubungan pelik antara lelaki dan perempuan. Aku menemukan diriku tidak lagi merasa rindu.

Dan aku mampu mengatakan bahwa pada akhirnya aku merasa tenang, benar-benar menyerahkan pada waktu, membiarkan segalanya berjalan. Aku tidak lagi menunggu dan bimbang. Dan aku menyukai kehidupan seperti itu, kuharap berlangsung untuk waktu yang lama.

 

Walau kadang aku menemukan diriku tidak lagi merasa rindu. Tapi rasa itu masih ada dan sama besarnya. Hanya saja, keinginan untuk menyerahkanmu pada takdir terlampau besar.

Sebelum mencintaimu, aku juga harus mencintai diriku sendiri kan? Lalu setelah itu, mencintaimu dengan wajar, dengan sederhana, dengan cukup.

Lalu juga, mampu melepas dengan ikhlas, sewajarnya demikian.

Advertisements

What I Don’t Understand

Ada hal-hal yang tidak kumengerti.

 

Tentang bagaimana Ayah selalu berusaha memaafkan, berdamai, dan melupakan setiap kesalahan yang ia lakukan.

Tentang Ayah yang selalu berusaha menutupi semuanya ketika aku sebenarnya telah mengetahui segalanya bahkan lebih.

Tentang Ayah yang selalu tersenyum setiap harinya sedang aku menangis tiap malam. Namun aku juga bertanya-tanya apakah ia juga pernah menangis dalam sujudnya.

Lambat laun, bagiku kesedihan itu menjenuh menjadi ketidakpedulian. Seperti tidak menganggapnya ada, seperti hanya ada Aku, Adik dan Ayah di rumah kami, dan juga seperti mendengar angin berbicara, tak bergeming kala namaku dipanggil berkali-kali.

Ada hal yang ingin kulindungi, seperti bagaimana Adikku akan tumbuh, mimpinya, dan juga cita-citanya. Ada hal yang ingin kugapai, seperti hidup bahagia bertiga.

 

Masih saja ada hal-hal yang tidak kumengerti. Seperti, mengapa seseorang mampu berkhianat ketika telah memiliki semuanya di dunia ini; cinta, keluarga, hidupn nyaman dan kebahagiaan. Dan tanpa sadar juga menghancurkan orang lain; teman hidup dan buah hati.

To Be Forgotten

Seperti tokoh utama wanita yang tengah kutonton saat ini. Mungkin hal yang paling kutakutkan adalah; dilupakan.

Seperti, bagaimana suatu saat nanti seseorang akan mengernyitkan dahi saat mendengar namaku, dan mungkin mengeluarkan suara “Ah” setelah beberapa detik berusaha mengingat

Rasanya menakutkan. Apalagi dilupakan oleh orang tersayang.

Dengan mata menatap layar televisi terkadang pikiran melayang entah kemana. Seperti memikirkan segala kemungkinan tentang dirimu yang mungkin juga akan lupa tentangku, suatu saat nanti.

It was beautiful, what we had was beautiful.

Segala pengalaman pertama, segala ucapan manis, segala rasa pahit menusuk dada, kuharap semuanya tidak kulupakan dan mampu menjadi suatu kenangan yang pahit namun indah. Kenangan yang berharga, kenangan yang membentuk aku suatu saat nanti. Dan suatu saat aku mampu tersenyum lega di hadapanmu, mengucapkan serangkaian terimakasih.

Dan kuharap begitu pula denganmu, Kuharap kau tidak lupa, apalagi dengan mudahnya. Kuharap namaku masih membawamu kepada kenangan yang mampu membuatmu tersenyum, mampu membuatmu bersyukur aku pernah ada dan hadit. Atau setidaknya jangan beritahu aku jika kau lupa. Mungkin setidaknya, rasa asing yang menyakitkan itu tidak terlalu pahit dirasa.