The Reason Why I Still Alive

Allah

Ayah

Adik

Dan. . . Seseorang di masa depan entah siapa.

 

Sekian.

Advertisements

When It Hits Me

Di saat seperti ini.

Di saat semua tengah berduka dan aku pun demikian. Sedih meluap-luap ditemani kesendirian. Membuatku benar-benar berharap dia ada untuk sekedar mendekapku.

Seperti kalimat klise; Aku benar-benar membutuhannya.

Untuk menopangku, untuk sekedar menemani, untuk membuat hati sedikit tenang. Karena dia adalah orang yang tersayang. Dan satu-satunya orang  yang terpikirkan selain sosok Ayah yang kuharap mampu menenangkan.

Namun ternyata memang aku harusnya tak boleh berharap.

Terutama pada dirinya.

Di sudut ruang kamar, dengan seisi rumah yang kosong, membuat sepi benar-benar terasa. Dan aku tidak memiliki hak untuk memintanya sekedar menemani, pun lewat pesan-pesan singkat. Karena berkali-kali dia memang sengaja menunda hanya untuk sekedar membalas. Sedang aku menunggu.

If parallel universe does exist . . .

Mungkin aku akan berkata dengan selantang-lantangnya aku tengah kehilangan orang tersayang dan aku membutuhkannya sebagai penopang. Karena dia adalah orang tersayang.

Namun yang ada adalah aku yang menatap layar pesan dengan menanti-nanti, mengetahui dia disana tengah bahagia dengan seseorang, sedang aku sesak meluap di dada, dan penantian yang cuma-cuma, serta sepi yang menyelimuti hebat.

Di saat seperti ini aku benar-benar egois karena membutuhkannya. Namun dia pula membuatnya jelas bahwa aku tidak memiliki hak itu.

 

Loss

31 Mei 2018

Kamis siang. Badan masih pegal rasanya, semalaman entah mengapa  tidak bisa tidur. Tapi mata menuntut untuk terpejam.

Kamis siang. Jari jemari dengan lancar berselancar di atas papan bercahaya, melihat sejumlah aktivitas yang sengaja disiarkan. Lalu panggilan itu datang, malas rasanya untuk menjawab, namun tak enak hati kujawab panggilan itu.

Kamis siang. Sedetik kemudian, sesak memenuhi dada, air mata mulai terbentuk di ujung, hanya membutuhkan satu kedipan untuk membanjiri. Rintihan kecil berhasil keluar dari mulut. Memikirkan bagaimana cara tercepat untuk pulang sebelum pukul 3 dengan hati tak karuan.

Yangkung telah berpulang.

Satu kalimat itu membuat otak memutar kejadian-kejadian terakhir saat bertemu beliau. Kehilangan yang luar biasa itu baru kurasakan sekarang. Kenyataan bahwa berpisah dan tak akan pernah bertemu kembali itu sekali lagi memperkuat kesedihan.

Teringat sosoknya yang bagai Ayah kedua. Berada di saat tersulit jika Ayah sedang jauh, mengantar dan menjemput ke Sekolah. Menemani lari pagi dan jalan-jalan sore.

Masih teringat bagaimana punggungnya yang selalu kuinjak-injak dengan sengaja. Usiaku tidak lebih dari 10 tahun kala itu, masih terlalu ringan, jadilah selalu menuruti beliau yang baru kusadari hampir tiap hari merasa pegal.

Masih ingat juga bagaimana aku selalu melihatnya berpakaian rapi untuk pergi kerja setiap akhir pekan. Entah mengapa aku lebih suka menghabiskan akhir pekan bersama Yangkung dan Mbahbuk daripada di rumah. Beliau akan membersihkan sepatu hitamnya sampai mengkilat.

Masih teringat juga bagaimana beliau menyukai tomat yang dipotong-potong dan diberi gula. Menikmatinya seolah sajian tersegar di dunia. Lalu aku hanya mengernyit dahi karena aku tidak begitu suka tomat.

Masih teringat bagaimana beliau selalu menyambutku bahagia. Hingga teman-temannya pun mengenalku sebagai cucu yang paling kau sayang. Aku tahu itu karena aku adalah cucu pertama.

Masih teringat juga saat dimana beliau mulai jatuh sakit. Mulai susah untuk menyetir. Mulai mudah lelah untuk sekedar berjalan.

Aku tidak lupa bagaimana aku selamanya adalah gadis yang tengah masuk ke perguruan tinggi di ingatan beliau. Setiap kali berkunjung, selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Aku sedikit tahu, beliau telah susah mengingat. Dan seterusnya aku adalah gadis 18 tahun di memorinya. Setidaknya beliau masih mengingat sentuhan tanganku. Masih ingat ketika beliau begitu sedih aku kembali ke perantauan tanpa pamit karena beliau sedang tertidur.

Idul fitri tahun lalu kusambut tangan beliau. Kurasakan lengannya yang makin mengecil, genggamannya yang lemah dan sedikit bertanya-tanya akankah kami bertemu di idul tahun ini.

Allah mempunyai jalan yang lain.

Ajal menjemput beliau di bulan suci membuatku lebih bisa mengikhlaskan. Perjalanan 3 jam dengan macet membuatku berkali-kali tak bisa menahan air mata di jalan.

Rasa menyesal yang luar biasa itu ada ketika akhirnya aku sampai dan orang-orang menyambutku haru. Aku tahu mereka mengingat bagaimana aku adalah cucu yang tersayang bagi beliau, mereka sekali lagi melihat beliau ada dalam diriku. Pun begitu juga Mbahbuk yang terus saja menyuruhku untuk mengikhlaskan, mengatakan tidak apa-apa karena tidak bertemu beliau untum terakhir kali.

Rasa menyesal itu ada. Dan aku berusaha ikhlas.

Selamat jalan, Yangkung. Memilikimu adalah kebahagiaan. Melepasmu pergi adalah sebuah keharusan. Karena Allah lebih menyayangimu daripada aku.