5 Putaran

5 putaran.

Malam kemarin aku memang dengan sengaja menghabiskan isi bensin motor dengan mengelilingi daerah dekat kampus. Niat awalnya adalah mencari makan malam, sendirian, tanpa teman dan merasa janggal luar biasa.

Sebelumnya keluar sendiri, makan sendiri, dan melakukan berbagai aktivitas sendiri bukanlah hal yang jarang kulakukan. Bahwa mungkin keluar bersama teman-teman lah yang jarang kulakukan. Tapi entahlah, mulai dari semester kemarin kusadari makan bersama temab atau apapun bersama teman, lebih sering kulakukan. Mungkin itulah kenapa aku merasa insecure ketika aku haru keluar sendiri. Jadilah aku berkeliling kampus dan daerah sekitar kampus hanya untuk mencari makan.

Dalam perjalan sempat berbagai hal terlintas dalam pikiran. Tentang bagaimana sebenarnya ada makna dalam setiap kejadian di dalam hidup dan sebenarnya mungkin ketika kita berat dalam menjalaninya, kita belum bisa mengambil hikmahnya. Dan mungkin diperlukan waktu yang lama dalam memaknai hal tersebut. Mungkin satu minggu atau mungkin satu tahun.

Malam kemarin aku berusaha untuk memaknai apa yang membuat hatiku gusar beberapa waktu terakhir. Tentang bagaimana aku kembali tak jujur pada diri sendiri, tak jujur pada orang lain, dan jatuh hati pada tuan berpuan. Aku ingin sekali percaya bahwa Allah menyayangi hambanya, karena memang begitu yang sering kudengar dan kurasakan. Allah masih mau menutupi masa lalu yang kelam, yang menjadikan aku seperti sekarang, yang menjadi titik terlemah dalam diriku. Selama perjalan di putaran pertama aku ingin percaya bahwa Allah mempertemukan aku dengan sosok yang saling cocok denganku dari awal bertemu merupakan sebuah ujian buatku, apakah aku mampu bertahan atau lemah, dan ternyata aku kalah dengan nafsu dan menjadi lemah. Setelahnya Allah memberikan pedihnya pengharapan pada sosok manusia, aku ingin percaya bahwa Allah ingin aku menyadari bahwa jalan yang kutempuh adalah kekeliruan, bahwa aku masih diberi kesempatan untuk tahu bahwa diri ini pantas mendapat yang lebih. Aku ingin percaya semua itu terlepas bagaimana tiap harinya perasaan ini terus membuat relung dada terasa sesak dan tenggorokan tercekat.

Aku menghabiskan 5 putaran untuk akhirnya mengambil kesimpulan bahwa aku harusnya berserah. Harusnya aku memohon. Harusnya aku menyerahkan urusan ini kepada-Nya, bahwa aku tak sanggup. Harusnya pula aku percaya bahwa jalan apapun yang kutempuh saat ini akan bermuara pada hal yang indah jika kumau sedikit bersabar

Advertisements

오늘은 너무 슬포

Hari ini ada sebuah kabar. Menyampaikan bahwa seseorang tengah menempuh salah satu hari yang ia mungkin sejak lama nantikan, mungkin perasaannya hari ini berdebar, atau mungkin ia menjalaninya dengan santai, dianggapnya sebagai latihan untuk ‘hari’ yang sesungguhnya dalam beberapa bulan mendatang.

Segelintir rasa pahit tiba-tiba hinggap. Dulu sempat terpikir bahwa ia akan memberitahu hari pentingnya tapi ternyata aku harus mengetahuinya dari orang lain. Percakapan di antara kita yang dulunya berjalan setiap hari harus terhenti entah kapan dan mengapa. Ada sedikit rasa kecewa pula, apakah sudah saatnya benar-benar rela pergi karena rasanya aku tak lagi dalam daftar prioritas?

Ingin kuucapkan sedikit kalimat penyemangat, yang sebenarnya tak berdampak apapun baginya. Mungkin hanya sebagai angin lalu. Namun mungkin saja ia akan mampu menangkap pesan bahwa aku benar-benar berdoa untuk kesuksesannya. Pada akhirnya aku tak mampu mengucapkan kalimat sederhana itu, harga diri ini menyuruh berhenti.

Ingin juga kusampaikan kepada dunia bahwa aku mendukungmu. Seperti wanita itu yang dengan bebasnya mampu mengatakan bahwa dia mendukungmu dengan sepenuh hatinya. Yang selalu mendapatkan kabar darimu setiap harinya. Namun jari-jariku melayang di udara, tak mungkin bertindak bodoh.

Lalu aku hanya bisa bersandar pada sajadah. Dalam sujudku kusampaikan apa yang ingin kusampaikan padamu kepada Allah. Bahwa aku berharap kau mampu melalui hari ini dengan mudah. Bahwa semoga tak salah menyebutkan namamu di dalam doaku. Bahwa kurasa mencintaimu terlalu berat, kuingin tenang dan berserah, menitipkanmu dalam lindungan-Nya.