A bestfriend

Kemarin aku lagi-lagi kembali ke tanah perantauan, hanya beberapa hari, sekedar menemui Dosen yang kadang sedikit mengejutkan di tengah-tengah liburan panjang.

Seperti biasa aku bertemu sahabatku. Sosok perempuan yang kukenal dan tak bisa kulepaskan begitu saja karena ternyata aku sangat membutuhkan dia. Percakapan kami kemarin membuatku sedikit terkesima, atau bahkan benar-benar terkesima, dan membuatku menutup mulut rapat-rapat karena tiada kata yang mampu menggambarkan rasa apapun itu yang membuncah di luar sana.

Berkali-kali aku selalu dihadang batuan masalah dan kerap kali dia berada di sampingku untuk melaluinya. Setelah sekian lama tidak bertemu aku menceritakan semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir, tentang bagaimana aku akhirnya telah membuat keputusan berdasarkan logika terhadap sosok yang mengusik hati, tentang hubungan pelikku bersama Ibuku, tentang lelaki Balikpapan yang terus ia harap untuk kuterima. Lalu juga tentang betapa semuanya membuatku tersiksa dan kecewa.

Namun dia ada.

“Kalau kamu tanya pendapatku, aku harus jawab sebagai aku sendiri atau kamu? Karena kalau aku sendiri pasti bertolak belakang dengan apa yang kamu inginkan sekarang. Karena aku gak bisa jadi kamu, engga akan pernah jadi kamu.”

“Tapi, apapun pilihankmu aku akan dukung. Karena ya itu pilihanmu. Aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk ada disana ketika ternyata kamu jatuh di pilihanmu sendiri. Aku engga akan nyalahin kamu ya paling cuma menasehati.”

Hanya demikian namun memberikan efek luar biasa terhadap batin. Lalu aku menyadari bahwa ada yang harus benar-benar aku hargai terus-menerus, yaitu dia. Sosok sahabat yang ada di saat-saat dunia benar-benar tidak berpihak.

Mungkin satu kata ini tak cukup namun tetap ingin kuucapkan. Terimakasih.

Advertisements

그냥. . .

Aku tidak tahu apakah amarahku ini lebih besar dari rasa kecewa.

 

Suatu pagi aku terbangun, mendambakan segera pulang ke rumah. Yang mana waktu itu bagiku definisi rumah adalah sepiring nasi padang yang hangat, suara televisi menggema di setiap sudut ruangan, perbincangan hangat tiap sore di ruang tengah dan sholat berjamaah ketika maghrib datang.

Tidak sampai akhirnya aku akhirnya pulang justru menelan rasa yang tak asing namun tak kusukai. Menusuk, alih-alih sakit, rasanya melompong.

Malam itu aku menyadari bahwa ada yang aneh dengan gelagat wanita itu. Selalu menggenggam handphone dengan was-was, memakai make-up dan pakaian yang bagus di dalam rumah serta kerap kali bersembunyi di kamar. Malam itu aku menyadari, lebih tepatnya memergoki, wajah pria lain ada di telepon genggamnya, sedikit buram namun aku tidak bodoh untuk tahu itu jelas bukan sekedar kawannya. Yang tersangkut berpura-pura tengah mendiskusikan perlombaan yang kutahu itu hanya bualan, karena perlombaan yang dimaksud kutahu jelas telah berlalu.

Malam itu aku terdiam, mendambakan sosok lelaki penghuni rumah, sang raja, untuk datang. Sesuai harapanku dia datang, memberikan senyuman terbaiknya, matanya berbinar dan memelukku hangat dan singkat. Dengan santainya mengajak wanita itu berbincang, setelah wanita itu lari terbirit-birit ke dapur, mematikan telepon genggamnya cepat-cepat tentunya, disanalah aku tahu bahwa Sang Raja tengah buta, buta keadaan.

Malam itu pula, perutku tiba-tiba terasa sakit. Aku mengerang dan berteriak. Sang Raja datang dengan panik walaupun ada rona lelah di wajahnya. Jam menunjukkan tengah malam tapi Sang Raja mampu menerjang suhu dibawah 20 untuk membawaku ke rumah sakit terdekat, yang mana ternyata mengharuskanku untuk tinggal di sana selama beberapa malam ke depan. Di sanalah aku merasa sedikit bersyukur, aku tidak berada di rumah, membayangkan mendengar suara wanita itu yang sengaja dianggun-anggunkan tiba-tiba membuatku ingin muntah.

Malam itu pula, aku tengah merindu. Kepada sosok yang tengah berhasil memenangkan hati, entah bagaimana caranya, yang selalu kuharapkan untuk tak muncul dalam mimpi karena setiap pagi rinduku membludak dan dia tidak bertanggung jawab atas hal itu. Rinduku tak sampai.

Beberapa hari berlalu dan menjelang tahun baru. Sempat kusampaikan padanya bahwa aku tengah merindu yang dibalas dengan gurauan yang sedikit membuatku kecewa. Membuatku sedikit tersadar bahwa dia tak pernah merindu. Di sana pula aku menyadari, rasa bukan perkara balas membalas. Apa yang kurasa belum tentu ia rasa, apa yang kuberi belum tentu ia beri. Terlebih dari seseorang yang telah memiliki teman berkomitmen.

Aku pulang. Tapi definisi rumah tak lagi sama dengan apa yang kudamba. Sang Raja berpesan untuk menjaga kesehatan, namun wanita itu tak pernah menjalankan tugasnya di rumah. Justru tengah khawatir mati-matian menemui telepon genggamnya tengah rusak, takut tak bisa menghubungi pria, ah entah siapa pun itu.

Rasanya jagadku berhenti, ketika lagi-lagi aku harus dilarikan ke instalasi gawat darurat untuk yang kedua kalinya di malam tahun baru. Apakah Sang Raja akan baik-baik saja? Apakah dia juga baik-baik saja? Dua sosok pria terus bergelut di pikiran sembari menahan sakit dengan tangan yang entah sejak kapan dijejal dengan cairan menetes-netes menggantung.

Sang Raja marah. Mengapa aku bersikap angkuh dan memilih diam kepada wanita itu. Sang Raja pikir beberapa hari ini aku bersikap tidak wajar dan menurutnya kurang ajar. Aku hanya mampu diam, tak berani berkata apa-apa. Kalau aku mengatakan sebenarnya, aku tahu Sang Raja akan terluka. Sungguh saat itu ingin kuajak Sang Raja untuk pergi, tinggal bahagia bersamaku dan Pangeran mahkota, hanya bertiga. Aku mampu melepaskan apapun, pendidikan, gelar apapun dan aku akan menjalankan tugas yang harusnya wanita itu kerjakan.

Tapi aku hanya diam.

Di sisi lain, juga ada seorang pria. Sang Penakluk Puncak, karena suka mendaki gunung-gunung, yang pernah kupercayakan hatiku di genggamannya namun tak ia sadari itu. Sang Penakluk datang kembali, berkali-kali minta izin kembali, dengan seuntaian pengakuan, dengan seuntaian harapan, juga dengan seuntaian amarah. Amarah karena tahu yang sebenarnya terjadi, bahwa aku tak pernah memutuskan untuk menyerah bahwa dia lah yang menyerah. Bahwa saat ini aku tengah dimenangkan hatiku oleh sosok yang menurutnya tak patut kurindu.

Sang Penakluk datang ke tempatku, ratusan kilometer ditempuhnya untuk melihat bahwa aku baik-baik saja. Walaupun sebenarnya tidak. Di sanalah aku melihat matanya yang masih sama saat aku pertama menaruh hati padanya. Di sanalah dia mengutarakan bahwa aku mungkin adalah pilihan pertama dan satu-satunya untuk orang lain. Bukan sebagai alternatif, yang didatangi ketika dibutuhkan untuk sekedar memenuhi ego dan hasrat. Mengatakan bahwa mungkin dia adalah orang yang berharap menjadikanku satu-satunya pilihan itu.

Pada akhirnya. Aku mencoba memposisikan diriku. Aku tak ingin Sang Raja terluka, namun aku melukai perempuan lain yang telah menjadi teman komitmen pria yang kurindu. Karma, mungkin? Bahwa aku menyakiti dengan membuat pria yang kurindu berkhianat tapi yang kudapat adalah Sang Raja dikhianat. Dunia kadang memang suka bercanda.

Aku masih membenci wanita itu yang telah berkhianat kepada Sang Raja. Tapi artinya aku juga benci diriku sendiri karena masih saja membuat pria yang kurindu berkhianat. Maka dari itu aku memutuskan untuk berhenti, membunuh harapan yang mustahil, menerima uluran tangan bantuan dari Sang Penakluk setelah kubisikkan bahwa aku perlu dia untuk melepaskan semua yang ada sekarang. Sang Penakluk mengerti dan dia bersedia memberikan alamat rindu padaku, supaya rinduku tak lagi salah alamat, katanya.

Walaupun tiap pagi aku masih saja merindunya, memandangi fotonya lekat-lekat, namun percaya bahwa cara yang paling tepat untuk merindu adalah menyerah dan mendoakan yang terbaik.

Aku tidak bisa mengucapkan apapun selain terima kasih pada Sang Penakluk. Memberikan candaan yang membuatku percaya bahwa terlepas dari semua yang pahit masih ada saja yang manis. Menemaniku dengan sabar dan ikhlas. Menungguku untuk lebih mencintai diri sendiri. Maka dari itu aku ingin Sang Penakluk selalu memberikan alamat rindunya padaku, mungkin suatu saat aku terbangun tidak lagi merindu pada pria itu.

Terakhir, kepada Sang Raja. Maaf bahwa saat ini aku belum tahu, apakah memberi tahumu adalah jalan yang terbaik? Ataukah bungkam adalah hal yang patut dilakukan? Yang kutahu, aku berada di pihakmu. Selalu.

Tuhan paling tahu, tentang betapa saya berharap itu adalah kamu.

Betapa saya berharap kamu menjumpai saya bukan sebagai alternatif. Betapa saya berharap kamu menjadikan saya sebuah pilihan pula. Betapa saya berharap kamu tahu bahwa rindu selalu membuncah ketika pagi datang, walau pahitnya saya tahu kamu tidak rasakan.

Betapa saya berharap untuk membunuh harapan-harapan mustahil itu dengan percaya pada kalimat yang datang dari orang lain, “Mungkin bagi seseorang yang lain kamu adalah pilihan pertama dan satu-satunya. Karena  kamu bukan alternatif.”

Maka dari itu, saya menerima uluran tangan dari orang lain dengan harapan saya mampu membunuh harapan itu.

Tapi lagi-lagi saya masih berharap itu adalah kamu.